Lepas Sekuritas, Arta Fokus di Hotel

PT Arthavest Tbk semakin serius menggeluti bisnis hotel. Bahkan, perusahaan rela melepas semua bisnis sekuritasnya. Itulah sebabnya, ARTA menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 25 miliar untuk mengembangkan bisnis hotelnya.

Irwan Egon, Direktur Utama ARTA, dalam paparan publik, Selasa (22/5) lalu, mengatakan, dana capex berasal dari kas internal perusahaan. Dengan dana itu, ARTA akan merenovasi Hotel Redtop dan mengembangkan convention center.

Selain itu, perusahaan juga akan gencar melakukan program promosi dengan bekerjasama dengan bank dan agen perjalanan untuk meningkatkan pendapatan. Rencana ARTA yang lain adalah meningkatkan pangsa pasar serta menambah jumlah pemegang saham.

Meskipun begitu, ARTA belum akan melakukan ekspansi dengan menambah jumlah hotel lagi. "Kami fokus mengembangkan Redtop dan convention center," katanya.

Selain itu, perseroan berencana untuk masuk ke bisnis properti. Sayang, Irwan enggan menjelaskan secara detail soal rencana tersebut.

Dengan semua rencana itu, ARTA menargetkan pendapatan tahun ini mencapai Rp 100 miliar. Artinya, pendapatan tahun ini bakal melejit 176,86% dari tahun lalu yang sebesar Rp 36,12 miliar.

PT Arthavest Tbk dulunya bernama PT Artha Securities Prima dan bergerak sebagai perusahaan efek swasta yang menyediakan jasa perantara pedagang efek, manajer atau penasehat investasi dan penjamin emisi efek.

Pada 2002, Artha menjadi perusahaan terbuka dan berganti nama menjadi PT Artha Securities Tbk. Pada 2005, perusahaan ganti nama lagi menjadi PT Arthavest Tbk dengan anak usaha PT Artha Securities Indonesia (ASI).

Pada Agustus 2011, perseroan mengakuisisi 51% saham PT Sanggraha Dhika selaku pemilik dan pengelola Hotel RedTop. Masih di bulan yang sama, perseroan juga melepaskan kepemilikan 99,98% saham ASI kepada PT Artha Perdana Investama.

Dengan aksi ini, perseroan resmi beralih ke bisnis perhotelan. "Kami ingin usaha yang punya keuntungan lebih stabil. Karena itu kami beralih ke bisnis hotel," ujar Irwan.

Menurut dia, risiko bisnis hotel dan properti jauh lebih terukur. Makanya, tahun ini ARTA akan melepas semua kepemilikan saham perusahaan di sektor sekuritas.

 

Cetak   E-mail